Minggu, 11 November 2012

Raja Bali Lecehkan Umat Islam, Himbau Agar Jangan Sembelih Sapi




 Kudus (VoA-Islam) – Jelang Idul Adha, sebuah pernyataan kontroversial dan menyinggung perasaan umat Islam keluar dari tokoh Hindu yang mengeluarkan himbauan agar umat Islam tidak menyembelih sapi atau kerbau. Alasannya, pada zaman Sunan Kudus menyebarkan agama Islam di tanah Jawa ada sebuah kebijakan yang diambil untuk menghargai penganut agama Hindu Majapahit, telah melarang seluruh umat Muslim untuk menyembelih hewan sapi atau kerbau di seluruh wilayah Kudus, Jawa Tengah.

Seperti diberitakan Tribunenews.com, Rabu (24/10/2012) kemarin, himbauan it  terus disosialisasikan oleh Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III, President The Hindu Center Of Indonesia yang juga Raja Majapahit Bali, di sela – sela dialog Islam – Hindu di Jawa Tengah, secara  tertulis.
”Dalam rangka Idul Adha 2012 nanti, saya menghimbau semeton Islam agar tidak menyembelih sapi sebagai kurban. Mungkin bisa diganti dengan dengan hewan lainnya. Ini penting, karena di Bali, Sapi adalah hewan yang disucikan, dan juga dipercaya sebagai kendaraan Dewa Siwa. Dan mayoritas orang Bali adalah penganut Siwaisme," katanya.
Ia  juga minta Desa Adat di Bali memberi pemahaman pada semeton Islam. Sehingga tanah Bali ini tetap sakral dan suci. Ibaratnya, dimana bumi dipijak, disana langit dijunjung seperti yang dilakukan Sunan Kudus yang sangat toleran. Demikian Dr.Arya Wedakarna.
”Saya juga mengimbau agar perusahaan di Bali dan para pejabat di Bali CSR jika ingin menyumbang, jangan memakai hewan sapi. Karena umat Hindu harus memberi contoh dan teladan sebagaimana yang diajarkan Sang Sulinggih. Mari hargai perasaan umat Hindu sehingga persatuan bisa dijaga," ungkap President World Hindu Youth Organization (WHYO) ini.
Menanggapi pernyataan Dr Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna MWS III tersebut Ketua Bidang Dakwah dan Hubungan Lintas Agama DPP Front Pembela Islam (FPI) Habib Muhsin kepada itoday, mengatakan, Raja Bali itu tidak berhak melarang umat Islam di Bali berqurban dengan sapi.

"Harusnya dirumuskan bersama-sama dengan MUI setempat, Raja Bali tidak usah menghimbau atau melarang menyembelih sapi di Bali. Ini justru menimbulkan polemik," kata Habib Muhsin.


Dikatakan Habib Muhsin, berbagai pihak, baik MUI, tokoh adat di Bali harus membicarakan persoalan kurban sapi. "Selama ini khan qurban di Bali tidak masalah. Misalnya menyembelih sapi di ruangan tertutup," kata Habib.  


Selama ini Umat Islam sudah toleransi dengan warga Hindu di Bali. "Yang namanya toleransi juga harus seimbang, umat Hindu juga harus menghormati keyakinan umat Islam termasuk membolehkan menyembelih sapi saat Idul Adha," jelasnya.
Kabarnya, stok sapi potong di Pulau Dewata mencukupi untuk kebutuhan Idul Adha walaupun diprediksi konsumsi meningkat hingga 1.500 ekor dibandingkan bulan-bulan sebelumnya.
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali Putu Sumantra mengatakan,  saat ini terdapat sisa stok untuk pemotongan sapi di lokal Bali sebanyak 12.140 ekor dan jumlah tersebut diprediksi akan mencukupi hingga akhir tahun.

Sunan Kudus Tentang Sapi  
Masih segar dalam ingatan, tahun sebelumnya  (Idul Adha 1432 H), Umat Hindu di lingkungan Banjar Margasengkala, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, Bali, justru menyumbangkan seekor sapi untuk dijadikan kurban pada Idul Adha 1432 H di lingkungan masjid Nurul Yaqin. Ini menunjukkan toleransi yang luar biasa dari seorang penganut Hindu ketika itu terhadap umat Islam.
Tapi alangkah bodohnya, jika seorang Raja Bali menuduh Sunan Kudus telah berani melawan syariat dengan melarang umat Islam menyembelih sapi. Ini adalah sebuah kebohongan besar dan sejarah yang diputarbalikkan.
Benarkah Sunan Kudus melarang umat Islam menyembelih sapi? Sepertinya Raja Bali itu berkeyakinan dengan sejarah Sunan Kudus saat menyebarkan agama Islam di wilayah Kudus yang ketika itu penduduknya masih banyak yang beragama Hindu dan Budha. Untuk mengajak pemeluk hindu dan budha masuk Islam, terlebih yang memegang teguh adat istiadat lama, Raden Jakfar Sodiq atau Sunan Kudus menggunakan siasah dalam berdakwah.  
Pada suatu hari Sunan Kudus membeli seekor sapi (dalam riwayat lain di sebut Kebo Gumarang). Sapi tersebut berasal dari Hindia, di bawa para pedagang asing dengan kapal besar.Sapi itu di tambatkan di halaman rumah Sunan Kudus.

Rakyat kudus yang kebanyakan beragama Hindu itu tergerak hatinya, ingin tahu apa yang akan di lakukan Sunan Kudus terhadap sapi itu. Sapi dalam pandangan agama Hindu adalah hewan suci yang menjadi kendaraan para Dewa. Menyembelih sapi adalah perbuatan dosa yang dikutuk para Dewa. Lalu apa yang akan di lakukan Sunan Kudus?

Menurut keyakinan Raja Bali, Sunan Kudus tidak menyembelih sapi di hadapan rakyat yang kebanyakan justru memujanya dan menganggap binatang keramat. Ketika itu, halaman rumah Sunan Kudus di banjiri rakyat, baik yang beragama Islam maupun Budha dan Hindu. Setelah jumlah penduduknya datang bertambah banyak, Sunan Kudus keluar dari rumahnya.
Konon katanya, Sunan Kudus berkata seperti ini, " Sedulur-sedulur yang saya hormati, segenap sanak kadang yang saya cintai. Saya melarang saudara saudara menyakiti apalagi menyembelih sapi. Sebab di waktu saya masih kecil, saya pernah mengalami saat yang berbahaya, hampir mati kehausan lalu seekor sapi datang menyusui saya.
Mendengar cerita tersebut para pemeluk agama Hindu terkagum kagum. Mereka menyangka Raden Jakfar Sodiq itu titisan Dewa Wisnu,maka mereka bersedia mendengar ceramahnya. " Demi hormat saya kepada jenis hewan yang telah menolong saya, maka dengan ini saya melarang penduduk kudus menyakiti atau menyembelih sapi!" pinta Sunan Kudus.

Kontan para penduduk terpesona atas kisah itu. Sunan Kudus melanjutkan, " Salah satu diantara surat-surat Al Qur'an yaitu surat yang ke dua dinamakan Surat sapi atau dalam bahasa arabnya Al Baqarah.” Masyarakat makin tertarik. Kok ada sapi dalam Al Quran, mereka jadi ingin tau lebih banyak dan untuk itulah mereka harus sering-sering datang mendengarkan keterangan Sunan Kudus.
Demikian, sesudah simpati itu berhasil di dapatkan akan lapanglah jalan untuk mengajak masyarakat berduyun-duyun masuk agama Islam.

Bentuk masjid yang di buat Sunan Kudus
pun juga tak jauh bedanya dengan candi-candi milik orang Hindu. Menara Kudus yang antik itu,yang hingga sekarang di kagumi orang di seluruh dunia karena keanehanya.Dengan bentuknya mirip candi itu,orang-orang Hindu merasa akrab dan tidak merasa takut atau segan masuk ke dalam masjid guna mendengar ceramah Sunan Kudus.
Menarik untuk dikaji para sejarawan muslim, apakah Sunan Kudus telah mengharamkan sapi untuk disembelih umat Islam atau sebagai strategi dakwah semata. Atau cerita ini tak lebih mitos yang dikembangkan umat Hindu di kalangan umat Islam. Wallohu’alam.

Sumber Voa-islam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys