Minggu, 11 November 2012

Dicari Menantu Seorang Muadzin

Beberapa tahun yang silam, ada seorang ibu yang minta tolong dicarikan calon suami untuk putrinya.  Ibu yang taat beribadah ini tidak memberi syarat yang muluk-muluk.  Yang penting calon ini seorang muadzin!
Namun beruntunglah sang ibu itu.  Karena permintaan itu ditujukan kepada penghuni kos-kosannya yang kebetulan mahasiswa aktivis dakwah di sebuah kampus PTN terkenal, maka yang dijaring tentu saja para muadzin yang juga mahasiswa atau alumni kampus tersebut.  Jadilah akhirnya menantunya tidak cuma muadzin, tetapi juga seorang sarjana berprestasi, yang kebetulan sudah punya pekerjaan sehingga siap menikah.

Apa yang dilakukan sang ibu itu mungkin hal yang langka pada zaman sekarang.  Karena masyarakat sudah sangat kapitalistik, maka syarat yang diberikan ketika mencari pasangan atau menantu juga sangat berbau materi: punya pekerjaan (diutamakan PNS atau pegawai BUMN), bahkan sudah punya rumah dan kendaraan.  Tampang nomor dua.  Keshalihan nomor 20 …
Pada masa keemasan peradaban Islam, muadzin adalah calon menantu idaman.  Andai saat itu sudah ada lagunya, bunyinya akan begini, “Kalau ibu – pilih menantu – pilihlah dia – sang muadzinku – Dia idaman – pujaan hatiku – juru panggil jamaah shalat di kotaku …”
Kenapa?
Pertama, seorang muadzin, dan ini yang dimaksud adalah muadzin tetap, bukan muadzin sporadis, tentu saja dapat diasumsikan seorang yang shalih, karena dia pasti rajin shalat berjamaah dan akhlaknya tidak cacat di kaumnya.  Karena tentu saja aneh dan bakal dipersoalkan umat, kalau habis adzan malah tidak ikut shalat berjamaah, atau kadang-kadang bermaksiat.
Kedua, seorang muadzin, lebih diutamakan yang suaranya merdu.  Umat akan kecewa bila suara muadzinnya kurang enak didengar.  Kalau suaranya merdu, insya Allah, dalam kondisi marahpun, tetap merdu …
Ketiga, pada masa itu, ketika tv, radio, jam dan jadwal sholat abadi belum ada, setiap muadzin harus mengetahui waktu-waktu shalat dengan melihat langit.  Dia harus menguasai dasar-dasar ilmu falak.  Karena itu, seorang muadzin pastilah lulus suatu training astronomi dasar.  Jadi dia pastilah orang yang cukup cerdas.
Keempat, pada masa itu jihad fi sabilillah masih banyak dilakukan.  Jihad ke tengah lautan atau padang pasir, membutuhkan navigator yang baik, dan saat itu, ketika GPS belum ada dan kompas juga masih langka, astronomi menjadi andalan.  Dan siapa lagi yang punya bekal dasar astronomi, kecuali muadzin?  Maka banyak muadzin direkrut menjadi navigator armada jihad.  Jadilah muadzin ini veteran-veteran jihad.  Jadi seorang muadzin itu pastilah seorang pemberani.
Tak heran banyak gadis Muslimah yang mengidolakan sosok lelaki yang shalih, bersuara merdu, cerdas dan pemberani, seperti ibu mereka mengidolakan calon menantu seperti itu, dan itu adalah muadzin!
Untunglah, banyak ulama Islam yang mencurahkan hidupnya untuk memudahkan pekerjaan ini.  Mereka membangun dasar-dasar ilmu falak dan lebih dari itu juga astronomi untuk navigasi di medan jihad.
Kaum Muslim telah berburu ilmu ke Barat (Mesir, Yunani) maupun ke timur (Persia, India), mengintegrasikannya, memperkuat dasar-dasarnya dan mengembangkan jauh di atas para gurunya.  Pusat penelitian astronomi Islam yang paling tua bermula di kota Maragha.  Maka dalam sejarah ilmu pengetahuan muncullah “Madzhab Maragha” atau bahkan “Revolusi Maragha” – sebuah revolusi saintifik sebelum Rennaisance.
Ini berawal ketika Khalifah al-Ma’mun memerintahkan untuk mendirikan sebuah observatorium dan merekrut para astronom untuk melakukan pengumpulan data yang teliti guna mengoreksi data yang telah ada hingga saat itu.  Untuk itu para astronom meminta bantuan ahli-ahli mekanik untuk membuatkan sebuah alat pengamatan langit yang disebut astrolabs.  Hasil-hasil pengamatan langit yang lebih teliti ini menyelesaikan problem yang signifikan yang selalu timbul dalam model langit geosentris Ptolomeus.  Saat-saat tertentu, planet Mars tampak seperti bergerak mundur (retrograde motion).  Kalau saja model ini diubah menjadi heliosentris, maka gerak mundur planet Mars itu mudah sekali dipahami, yaitu tatkala bumi yang beredar mengelilingi matahari lebih cepat dari Mars, sedang “menyalip” Mars.  Tapi waktu itu, Ptolomeus yang percaya pada teori geosentris, mencoba memecahkan problema itu dengan lingkaran-lingkaran tambahan yang disebut episiklus.  Tetapi episiklus-episiklus ini makin lama menjadi makin rumit.
Maka sejumlah astronom Muslim seperti Ibnu al-Haytsam dan Ibnu al-Syatir menekuni kemungkinan bahwa bumi berputar pada porosnya serta kemungkinan adanya sistem tata surya yang berpusat di matahari.  Mereka membuat model planet non Ptolomeus.  Sedang Muayyaduddin Urdi secara total menolak model Ptolomeus karena dasar empiris, tak hanya filosofis.  Ini pendapat yang luar biasa maju.  Nicolaus Copernicus baru berani mengemukakan pendapat ini di Eropa 500 tahun kemudian.  Buku Copernicus yang berjudul De Revolutionibus ternyata banyak mengadaptasi model langit dari Ibnu al-Syatir dan at-Tusi dari madzhab Maragha.  Argumentasi Copernicus tentang rotasi bumi juga senada dengan karya Ali al-Qusyji.
Pada abad-21 ini, fenomena langit seputar tata surya sudah bukan teori lagi, tetapi sudah menjadi fakta keras yang tidak dapat dibantah lagi.  Manusia berbagai bangsa sudah meluncurkan ribuan pesawat ruang angkasa dan satelit yang mengorbit bumi.  Terakhir, tahun 2009 para astronom dan insinyur aeronautika Iran sudah berhasil membuat satelit dan meluncurkannya dengan roket yang dibuat sendiri tanpa pertolongan negara lain.  Semua hasil eksperimen ini terus membuktikan bahwa bumi memang berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari.
Anehnya, di abad ini pula, justru ada sejumlah orang yang ghirah Islamnya tinggi kembali meragukan pendapat bahwa bumi itu berputar pada porosnya dan mengelilingi matahari.  Mereka berpendapat, bumi itu diam, dan matahari, bulan dan seluruh bintang-bintang beredar mengelilingi bumi.  Mereka menganggap pendapat ini didukung Alquran (antara lain QS 35:41, dan QS 21:33).
Padahal kebenaran sebuah fenomena alam yang dapat diamati atau diukur sama sekali tidak memerlukan dalil kitab suci manapun.  Rupanya para astronom seribu tahun yang lalu justru lebih jernih dalam memahami ayat Alquran sekaligus memahami fenomena alam.  Dengan itulah mereka dapat menjadikan astronomi sebagai modal untuk memuliakan Islam dan kaum Muslim.  Itu karena para astronom itu berangkat dari seorang muadzin!
Abu ar-Raihan al-Biruni menegaskan perbedaan antara astronomi dengan astrologi, sehingga menekankan pengamatan empiris yang akurat dan eksperimen untuk membuktikan kebenaran perhitungan astronomi.  Akurasi data itu juga membuat astrofisika dimulai.  Adalah Ja’far Muhammad bin Musa bin Syakir yang dari ribuan pengamatannya memastikan bahwa benda-benda langit mengalami hukum fisika yang sama seperti bumi.  Sedang Ibnu al-Haytsam, sang penemu fisika optika – yang menjadi dasar pembuatan lensa untuk teropong bintang – dari pengamatannya memastikan, bahwa apa yang hingga saat itu diyakini sebagai “lapisan-lapisan langit” ternyata bukanlah sesuatu yang padat, melainkan kurang rapat dibanding udara.  Jadi kalau di Alquran disebut “lapis langit pertama sampai ketujuh”, maka itu pasti terletak di alam ghaib yang tidak dapat diamati manusia.  Di situlah, ketika sains berakhir, dimulailah keimanan.

Sumber DetikIslam.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | free samples without surveys